logo blog
Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.
loading...

Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi Episode 16 Part 3

Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi Episode 16 Part 3. Akhirnya dengan ide Jung Yi, kakek Moon dan dia bisa memenangkan kompetisi dengan Yook Do. Untuk kedua kalinya Yook Do kalah dari Jung Yi dan itu benar-benar membuatnya terpukul. Terlebih dengan Kang Chun, yang sudah berusaha mengalahkan kakek Moon dengan cara licik, masih tidak bisa mengalahkannya. Karena keinginan Kakek Moon bukanlah untuk mengeluarkan Yook Do dari Bun Won, diapun meminta Raja untuk tidak mengeluarkan Yook Do, Sepertinya kakek Moon hanya ingin memberi pelajaran untuk Kang Chun.




Sinopsis Goddess of Fire, Jung Yi Episode 16 Part 3


P Gwang Hae menghampiri Tae Pyung yang hendak keluar istana. Dia memberi selamat pada Tae Pyung karena Raja menyukai mangkuk buatannya. Tae Pyung menjawab kalau semua itu adalah berkat pengaran. P Gwang Hae mengeluh karena Tae Pyung hanya berterima kasih padanya dengan kata-kata, dia ingin Tae Pyung menunjukkan ucapan terima kasihnya dengan perbuatan.

Tae Pyung menyanggupinya, tapi dia akan melakukannya di lain waktu, karena sekarang dia harus menemui seseorang yang berkontribusi penuh atas kemenangan hari itu. Mendengar itu, P Gwang Hae bersemangat untuk ikut dengan Tae Pyung menemui orang itu. 

Tae Pyung mengaku kalau dia tidak tahu jalan menuju tempat orang itu, karena itu dia ingin meminta bantuan Tae Do untuk menjadi penujuk jalan. Mungkin karena P Gwang Hae ingin, Tae Pyung hanya pergi bersamanya, P Gwang hAe berkata kalau dia yang akan menjadi penunjuk jalan untuk Tae Pyung, bahkan pangeran mengaku kalau semua jalan-jalan di Han Yang sudah seperti punggung tangannya. 

Tae Pyung berkata kalau dia ingin pergi ke sebuah tempat di dekat Jembatan Shimpi di Namchon. Mendengar nama itu, Pangeran sedikit kebingungan tapi dia mengatakan kalau dia tahu tempat itu.


Tae Pyung mengikuti P Gwang Hae berjalan menyusuri jalan-jalan. Tae Pyung sudah terlihat kelelahan, dia mengeluh kalau P Gwang Hae tidak tahu jalan karena mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama. Masih tak mau mengaku kalau dia tidak tahu jalan, P Gwang Hae terus menujukkan arah jalan. Tae Pyung yang tak ingin mereka terus tersesat, bertanya pada seorang ibu-ibu yang lewat. Ibu itu menunjukkan arah jalan yang berbeda dengan arah jalan yang akan p Gwang Hae tuju. Mendengar itu, dengan wajah tanpa dosa P Gwang Hae langsung menuju arah jalan yang ibu tadi maksud. 


Tae Pyung dan P Gwang Hae sampai di tempat yang ingin Tae Pyung datangi, ternyata itu adalah tempat perkumpulan kumuh. Setelah mencari – cari, akhirnya Jung Yi melihat orang yang ingin dia temui. Orang itu adalah anak kecil yang membawa botol minuman anggur saat berada di kedai.  Anak kecil itu punya seorang adik yang terus merengek minta ditemani bermain oleh padanya. 

Tae Pyung mendekati kakak adik itu. Melihat Tae Pyung, anak laki-laki itu bertanya apakah botol minuman anggurnya dapat membantu Tae Pyung. 

“Tentu, aku mengalahkan semua orang.” Jawab tae Pyung. Karena sang kakak tidak mau bermain dengan si adik, Tae Pyung berkata kalau mereka harus rukun. 

“Dia terus merengek padaku untuk bermain dengannya. Tapi ayahku akan kembali kesini setelah malam.” Keluh sang kakak.


Tae Pyung mengerti, diapun mengajak si adik untuk bermain dengannya, tentu saja si adik tidak menolaknya. Tae Pyung juga mengajak anak-anak lainnya untuk bermain dengannya. 

Saat Jung Yi bersama semua anak-anak yang ada di tempat pemukiman itu pergi, P Gwang Hae duduk disamping bapak tua dan bertanya kenapa anak-anak terlihat sangat kurus? Bukankah tidak ada kekeringan ataupun banjir.


Kakek itu menjawab kalau kekeringan dan banjir bukanlah satu-satunya hal yang merampok rakyat, “Negeri ini mengambilnya dan para tuan tanah mengambilnya. Setelah membayar upeti, tidak ada yang tersisa. Apa yang lebih menakutkan dari kekeringan adalah keharusan membayar upeti.” Jawab si kakek. Mendengar itu P Gwang Hae terlihat prihatin.


Tae Pyung dan anak-anak dari pemukiman bermain cak ingkling (hahahhha... maaf itu istilah di daerahku... kalau dari subtitle yang tertulis di drama ini, nama permainan itu adalah Sabangchigi) Tae Pyung dan anak-anak bermain dengan gembira, sehingga membuat P Gwang Hae tertarik untuk mengikutinya juga. Saat memainkan permainan itu, P Gwang Hae terjatuh dan membuat anak-anak tertawa senang. 


P Gwang Hae mengantarkan tae Pyung pulang ke Bun Won. Melihat raut wajah P Gwang Hae yang tidak bersemangat, membuat Tae Pyung bertanya apakah P Gwang Hae marah? Tentu saja P Gwang Hae menjawab tidak, karena mereka sudah melewati seharian yang membahagiakan bersama anak-anak.

Tae Pyung masih penasaran kenapa P Gwang Hae terlihat tidak senang, apakah karena P Gwang Hae kalah dalam permainan sabangchigi. P Gwang Hae tersenyum dan tidak. 

“Yang sebenarnya adalah... sekarang aku sudah melihat dengan mataku sendiri, orang-orang miskin dan kelaparan.  Hatiku berat dengan beban.”ungkap P Gwang Hae, dia pun meminta Tae Pyung untuk selalu mengingatkannya untuk tidak pernah melupakan perasaan yang dia rasakan sekarang, 


Tae Do datang menemui Hwa Ryung, ada hal yang ingin mereka sampaikan satu sama lain. Tae Do menyuruh Hwa Ryung menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan terlebih dulu. Hwa Ryung memberitahu tae Do kalau kang Chun sudah mencurigai Tae Pyung kalau dia adalah Jung Yi. Tae Do berkata kalau sampai Kang Chun tau Tae Pyung adalah Jung Yi anak dari Yoo Eul Dam, mereka tidak dapat menebak apa yang akan Kang Chun lakukan. 

Sekarang giliran Tae Do yang mengatakan apa yang akan dia sampaikan. Tae Do memberitahu Hwa Ryung kalau dia sudak mengakui perasaannya pada Jung Yi dan Jung Yi  menolaknya. Tapi tae Do tidak perduli dengan penolakan Jung Yi, karena Tae Do akan tetap menunggu Jung Yi sampai kapanpun.


Hwa Ryung benar-benar syock, dia bertanya apakah walau Tae Do sudah ditolak oleh Jung Yi, masih tidak akan ada yang berubah.


“Alasan mengapa aku mengakui pada Jeong adalah  bukan untuk mengetahui bagaimana perasaan Jeong tentang aku. Yang aku ingin adalah kau tidak mengharapkanku lagi. Hwa Ryung....... jangan melihatku lagi.” ucap tae Do dan hendak pergi.


“Kau tahu ini tidak mesti terjadi, Orabeoni. Bahkan saat kau, kau sendiri, tidak bisa melakukannya... bahkan saat kau terus melihat Jeong, tanpa menghiraukan bagaimana perasaan dia tentangmu.... dan sekarang kau menyuruhku untuk berpaling?” 

“Hwa Ryung.... kau bisa membenciku dan merasa sakit hati padaku semaumu. Tapi Jeong...  yang menganggapmu sebagai satu-satunya teman, mohon jangan membencinya.” Pinta Tae Do dan pergi.


Keesokan paginya, Tae Pyung bertemu dengan Jong Soo. Jong Soo memuji Tae Pyung yang bisa mengalah Yook Do, tapi tiba-tiba dia jadi marah-marah pada Tae Pyung . Apa yang membuat Jong Soo tiba-tiba marah? Ternyata di belakang Tae Pyung ada Kang Chun. 

Setelah kang Chun lewat, Jong Soo memberitahu Tae Pyung untuk lebih hati-hati, karena mulai sekarang dia akan mengalami banyak masalah. 


Yook Do melihat Hwa Ryung dari kejauhan, dia berniat sekali untuk menghampiri Hwa ryung tapi janjinya pada ayahnya dan juga rasa malunya pada hwa Ryung karena sudah kalah pada Tae Pyung membuat Yook Do tidak mendekati Hwa ryung. 


Kang Chun kehilangan jejak Yook Do. Karena rasa frustasinya dan rasa terpukulnya karena kekalahannya, Yook Do melarikan diri.


P Im Hae masuk keruangan Kang Chun dan menyinggung tentang Yook Do yang melarikan diri, dia mengatakan kalau apa yang dilakukan Yook Do adalah hal yang wajar. Kang Chun yang ingin membela anaknya mengatakan kalau anaknya adalah anak yang berhati kuat, setelah semua ini Yook Do akan keluar menjadi orang yang lebih kuat lagi.

P Im Hae kemudian mengatakan kalau Tae Pyung adalah pendendam semenjak dia masih remaja. Pernyataan itu membuat Kang Chun bertanya bagaimana P Im Hae bisa mengenal Tae Pyung dengan sangat baik. P Im Hae memberitahu Kang Chun kalau Tae Pyung adalah Jung Yi. 

Kang Chun tak mau begitu saja percaya, karena yang dia tahu kalau Jung Yi sudah meninggal. Itu membuat P Im Hae juga ragu, diapun mengatakan kalau sepertinya dia sudah salah dengar.


Jung Yi pergi ke rumah Tae Do. Ayah dan Ibunya Tae DO yang tak mengenal itu adalah Jung Yi, langsung mempersiapkan makanan untuk Jung Yi. Tanpa banyak bicara Jung Yi duduk di bangku yang sudah disiapkan, sambil melihat Jung Yi, ibunya Tae Do berkata, “jika Jeong kami masih hidup, dia akan seusiamu.”


Tae Do juga pulang ke rumahnya dan melihat Jung Yi. Dia memanggil Tae Pyung dengan nama aslinya, “Jeong.”

Mendengar Tae Do menyebut nama Jung yi, ayah dan ibunya langsung keluar dan memarahi Tae Do karena memanggil Jung Yi.

“Dia benar. Saya Jeong.” Aku Jung Yi akhirnya. Tentu saja ayah dan ibu Tae Do terkejut mendengarnya. 


“apa kau benar-benar Jung?” tanya ibu Tae Do dan di jawaban dengan anggukan oleh Jung Yi.

Dengan rasa haru, ibu Tae Do langsung  memeluk Jung Yi erat. Ibu dan ayah Tae Do memang orang baik, mereka tidak perduli kalau Tae Do dan Jung Yi sudah membohongi mereka, karena yang penting sekarang mereka bisa melihat Jung Yi lagi. 

Ayah dan Ibu Tae Do lalu mempersiapkan nasi dan sup kesukaan Jung Yi. Jung Yi merasa sangat senang dan tae Do juga merasa tenang melihat Jung Yi yang terus tersenyum.


Kang chun menemui Hwa Ryung, karena dia mengira Yook Do menemui Hwa Ryung. Namun karena janjinya pada Kang Chun, dia tidak pernah bertemu dengan Yook Do lagi. Agar kang Chun legar, Hwa ryung berjanji akan mencarikan Yook Do untuk Kang Chun.


Tentu saja, Hwa Ryung tau dimana Yook Do bersembunyi, dan langsung pergi kesana untuk menemui Yook Do. Berkat kata-kata Hwa ryung dan motivasinya, Yook Do kembali ke Bun Won lagi.


Sekembalinya di Bun Won, Yook Do  menemui Kang Chun.  Yook Do langsung berlutut dan meminta Kang chun memberikan padanya satu kesempatan lagi, dia berjanji tidak akan kalah pada siapapun lagi. 

Kang Chun menyuruh Yook Do bangun, dia juga berkata pada Yook Do untuk tidak berlutut lagi pada siapapun. 


Ternyata Hwa Ryung juga datang ke Bun Won untuk mengantarkan Yook Do. Saat melihat Hwa Ryung, Jung Yi menghampirinya. Melihat Hwa Ryung yang tanpa senyum sedikitpun padanya membuat Jung Yi bingung.

“Sekarang, kau punya segalanya.... Jung.” Ucap Hwa Ryung. 

“Panggil aku Tae Pyung disini.... Tae Pyung,” pinta Jung Yi pada Hwa Ryung.

Tapi Hwa Ryung tidak menghiraukannya, rasa benci nya pada Jung Yi sudah memuncak. “apa kau tahu kenapa aku menyerah membuat tembikar dan masuk ke dunia dagang? Itu karena kau. Aku sudah memberikan usaha terbaikku, tapi aku tidak bisa menyamaimu, yang hanya bermain-main.”

“Hwa Ryung-ah...”

“Tentu, itu bisa terjadi. Karena kau adalah anak perempuan Guru. Karena kau punya darahnya dalam dirimu. “

“hwa ryung-ah, ada masalah apa?” tanya Jung Yi yang tak mengerti dengan perubahan sikap Hwa Ryung.

“Bakat Guru Yoo Eul Dam, hati orabeoni... itupun tak cukup untukmu? Bahkan satu-satunya orang yang memandangku, bahkan ahli keramik kerajaan Lee.... kenapa kau harus melempar dia dalam keputusasaan? Apa kau benar- benar harus menjadi seoarng ahli keramik dan melakukan semua itu?” Teriak Hwa ryung. “sekarang giliranku memiliki semuanya, Jung-ah....”


Setelah mengatakan unek-uneknya pada Jung Yi, Hwa Ryung menemui Kang Chun dan mengatakan yang sebenarnya kalau tae Pyung orang yang mengalahkan Yook Do danmembuatnya dalam keterpurukan adalah Jung Yi, putri dari Yoo Eul Dam. 

“Untuk membuktikan kalau dia bisa menjadi ahli keramik terbaik di joseon, dia datang ke Bun Won. Anak perempuan Guru Yoo Eul Dam, Jung Yi.”


Mendengar semua itu Kang Chun terlihat sangat marah. Dia langsung menemui Jung Yi, dalam perjalanan mencari Jung yi, Kang Chun teringat pada kata – kata Jung Yi berkata.

“Dengan darah ayah saya, saya akan menjadi ahli keramik terbaik di Joseon dan mengalahkan anda, dan pada saat itu tiba , anda harus meminta maaf pada saya.” Ucap Jung Yi remaja.

“Jika saya kembali setelah belajar teknik-teknik porselin... jika saya kembali setelah belajar keterampilan yang tidak seorangpun bisa menandingi, apakah saya bisa menjadi seorang ahli keramik di Bun Won.” Ucap Jung Yi saat akan pergi ke china. 


Akhirnya Kang Chun bertemu dengan Jung Yi. Tanpa basa basi, Kang Chun berkata, “Yoo Tae Pyung..... kau adalah... putri Yoo Eul Dam.”

Bersambung....

NB: bagaimana yah respon kang Chun saat tau kalau Jung Yi sebenarnya bukan anak Eul Dam, tapi anaknya sendiri. Untuk mengetahui jawabannya, kita ikutin terusan drama ini. Oia..... malam ini adalah malam penayangan episode 32... episode terakhir..... pengen langsung meloncat... tapi ntar jadi gak seru... hehehhe..... 17 ke 32,.... semangat....

Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

3 komentar

Semangat mbak lilik, biar cpt selesai...
Penasaran abiz :)

Balas

Aaaaaa g sabarr,,oz mbakk kasih clue dong, sampai episode terakhir jung yi-sama sang pangeran ada lovenya g? Seperti drama2 lain

Balas

iya ntar insya alloh aku buat ringkasannya sampai episode akhir...

Balas

loading...
Copyright © 2013. Drama Populer - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger